Rabu, 15 September 2021

Efek Negatif Begadang

Sebagian besar dari kita pastinya sudah tau lah ya, kalau tubuh itu perlu waktu sekitar 7-9 jam buat tidur. Nah, sementara itu, banyak juga ni yang masih begadang demi pekerjaan yang belum selesai, sekadar lagi maraton nonton drama, atau ya emang nggak bisa tidur aja. Banyak, kan? Aku sendiri salah satunya.

Nah, mengutip dari situs guesehat.com, National Sleep Foundation (NSF) 1998 Women and Sleep Poll menemukan bahwa rata-rata wanita berusia 30-60 tahun tidur hanya 4 jam 41 menit setiap harinya. Nggak perlu dijelaskan lagi ya apa kesibukannya para wanita ini sampai-sampai waktu tidurnya sangat jauh dari cukup. Apalagi seorang ibu. Udahlah kayaknya tengah malam adalah hal yang paling nyaman banget buat me time atau menyelesaikan pekerjaan lainnya. Bahkan ada pepatah yang bilang, ibu adalah orang yang selalu paling pertama bangun dan paling terakhir tidur. Bener, nggak?

Ternyata masalah kurang tidur itu tadi bukan sekadar karena kesibukan atau menjalankan hobi aja ni, gengs. Masih mengutip di situs guesehat.com tadi, poling yang dilakukan selanjutnya oleh NSF tahun 2005 mengungkapkan bahwa wanita lebih mungkin mengalami kesulitan tidur daripada pria. Jadi, wanita ini lebih sering kesulitan buat tidur malem, gengs. Sebabnya? Katanya sih karena perubahan hormon. Menstruasi, hamil, melahirkan atau menopause.


Padahal kurang tidur, atau susah tidur (insomnia) kronis bisa memengaruhi kemampuan seseorang buat menjalani aktivitas sehari-hari. Udah gitu, banyak juga efek samping lainnya kalau tubuh kurang dikasih jatah tidur.

  • Menurunkan Kinerja Memori

Biasanya, orang yang kurang tidur, bakalan merasa lelah dan kurang fit keesokan harinya. Karenanya juga, kinerja otak melambat sebab pasokan oksigen yang seharusnya dialirkan ke otakpun melambat karena kelelahan tadi. Mengutip dari halodoc.com, dalam dunia medis, kondisi gangguan berpikir akibat otak yang kelelahan ini sering disebut sebagai brain fog. Atau lebih sering kita kenal dengan 'lemot'.

  • Meningkatkan Kadar Gula Darah

Masalah kesehatan seperti gula darah tinggi ini sering dikaitkan dengan orang-orang yang sering begadang. Padahal, kondisi gula darah tinggi seringnya juga berdampak sama kondisi kesehatan lain. Jadi gampang capek, sakit kepala, penyakit kardiovaskular, bahkan kerusakan ginjal.

  • Kulit Terlihat Kusam

Efek keseringan begadang, terutama buat wanita bisa mengakibatkan sistem kekebalan tubuh melemah. Hal itu karena hormon kortisol dalam tubuh meningkat, lalu memicu inflamasi yang akhirnya membuat kulit jadi kusam. Yah, sayang dong skincare mahalnya kalau wajah tetap kusam gegara sering begadang. 

  • Berat Badan Naik

Loh, kok bisa? Nah, kebanyakan orang yang lagi susah tidur itu jadi mudah lapar. Lalu, ngemil adalah jalan ninjanya! Selain itu, orang-orang yang sudah tidur biasanya juga bisa disebabkan karena terlalu banyak mengkonsumsi karbohidrat tinggi beberapa jam sebelum waktu tidur. Jadinya, ya nggak heran kalau timbangan geser ke kanan terus.

  • Koleksi Kantung Mata

Umumnya, kondisi kurang tidur sangat terlihat jelas di seberapa tebal kantung matanya. Hal itu terjadi karena pembuluh darah tipis di bawah area mata semakin melebar ketika seseorang kurang tidur. Nah, semakin kurang jam tidurnya, maka semakin lebarlah koleksi kantung mata di wajahnya. Mau setebel apa, nih, jadinya?

Itu tadi beberapa efek negatif dari kondisi kurang tidur. Kondisi kayak gini, kalau berlangsung terus menerus dalam waktu yang lama juga bisa menyebabkan hal-hal buruk pada tubuh. Jadi, begadanglah secukupnya saja. Ayo sama-sama kita utamakan kesehatan diri sendiri dulu. Salam sehat selalu, terutama buat para ibu di seluruh jagat blogspot.❤




Sumber : 


Selasa, 14 September 2021

Mengenal Huruf Dengan Metode Fonik

"Bu, kenapa sih ibu nggak mau garuk-garuk yang kenceng kalo di sini?" tanya Mas Khal sambil nunjukin tulang rusuknya.

Biasa, tiap mau tidur malem anak ini manjanya luar biasa sama ibu. Maunya digaruk-garuk cuma sama ibu. Pas lagi asik garuk sambil peluk-pelukan, tiba-tiba dia nanya kayak gitu.

"Soalnya Mas Khal kurus banget, tulang rusuknya sampe kerasa banget kalo di pegang," jawabku sedih.

"Emm, kalo ibu tulangnya kok nggak kerasa?" ucapnya balik bertanya.

"Oh, em, karena ibu ada lemaknya."

"Berarti ibu kenapa?"

"Hmm, gendut, gendut."

"Nah!" ujarnya puas sambil tertawa.

Hihi, secuplik obrolan kayak di atas itu udah biasa banget emang tetiba muncul dari bocah tiga tahunku. Anak ini tipenya suka ngelawak. Nggak tau sih turunan siapa, tapi emang sukanya bikin ibu dan bapak geleng-geleng kepala gegara omongan ceplas-ceplosnya yang emang bikin ketawa.

Dari umurnya dua tahun, sukanya ganti-ganti lirik lagu. Kayak begini contohnya.

"Bebek adus kali, nututi sabun wangi.

Bapak mundut roti, khalfan diparingi."

Tapi, diganti sama dia jadi begini.

"Bebek adus kali, nututi sabun ora wangi.

Khalfan mundut yupi, bapak ora diparingi."

Sebenernya masih banyak lagi sih tingkah dan omongannya yang suka bikin ibu bapaknya tercengang. Apalagi, cara dia menyampaikan itu biasanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenernya udah dia tau jawabannya. Kayak cuplikan di atas tadi. Seolah-olah lagi ngetes ibu atau bapaknya gitu. MashaAllah…

Melihat kemampuan bahasanya yang emang jauh lebih menonjol dibanding kemampuan fisiknya, di umurnya tiga tahun ini aku mulai mengajarkan membaca. Baru sekadar pengenalan, belum yang bener-bener diharuskan bisa baca. Karena, konon katanya, anak umur segitu bukan waktunya belajar membaca. Tapi aku rasa, setiap orangtua tau sih gimana keadaan anaknya sendiri. Aku pun nggak mau maksain kalau emang anaknya sendiri belum tertarik.

Nggak ada target khusus. Cuma sambil main-main aja dikenalin membacanya. Ngikutin mood anak aja pokoknya. Sambil menyelami lagi sih apa yang emang bener-bener diminati anak. Saat ini, aku lagi mengulang pengenalan huruf kecil dulu ke Mas Khal. Soalnya, dia udah lebih duluan kenal huruf kapital. Itupun tanpa disengaja. Cuma karena sering mainan puzzle. Ngeliat anaknya yang tertarik, jelas aja aku arahkan sekalian.

Beberapa waktu yang lalu aku juga sempat ikut kelas Pra-Membaca untuk anak. Dari situ, aku dapet pencerahan nih buat mengenalkan bunyi huruf pada anak. Bunyi, bukan namanya aja. Bunyi huruf ini disebut fonik. Kalau dulu aku sendiri belajar mengeja per suku kata, ba-bi-bu dan sebagainya gitu, ya. Nah, kalau yang ini, kita harus mengenalkan dulu nih bunyi huruf itu ke anak. Jadi nggak sekadar tau huruf a, b, c, d, dan lain-lain aja. Kalau di luar negeri, fonik ini udah menjadi pondasi seorang anak untuk mengeja dan membaca.


Katanya, dengan mengenal bunyi hurufnya, maka si anak bakalan lebih mudah buat membaca. Lebih mudah, ya. Bukan lebih cepat. Nah, dengan memahami fonik, anak bakalan lebih mudah membunyikan huruf kemudian menyambungnya dengan huruf lain. Dalam metode ini dimulai dengan latihan-latihan mendengarkan (ear training) dulu, kemudian diikuti dengan latihan mengucapkan bunyi, misalnya B (beh), D (Deh), H (hah). Selanjutnya pengucapan kata, kalimat pendek, dan akhirnya kalimat yang lebih panjang.

Setelah aku coba terapin metode itu, Mas Khal emang lebih mudah menerima dan memahami sih. Walaupun belum bisa membaca sempurna, bahkan masih sebatas hafalan, tapi setidaknya pelan-pelan dia mengenal dulu. Biar kedepannya juga semakin mudah belajarnya. Pelan-pelan, yuk, bisa yuk!

Senin, 13 September 2021

Pengalaman Tak Terlupakan

Kalau lagi hujan terus-terusan gini, tiba-tiba keinget waktu banjir di Banjarmasin bulan Januari yang lalu. Kebetulan waktu itu aku lagi pulang kampung. Beberapa hari hujan turun sangat-sangat deras. Awalnya sih ya biasa aja. Nggak mengira kalau rumah bakalan kebanjiran juga. Soalnya, sejak awal tinggal di rumah itu, belum pernah ada yang namanya banjir sampai masuk ke dalam rumah. Sama sekali.

Waktu itu di beberapa daerah lain di Kalimantan Selatan emang udah kerendem banjir agak parah. Banyak berita-berita menyedihkan yang aku dapetin waktu itu dari beberapa teman yang kebanjiran. Lalu, akhirnya tibalah giliran di daerah rumahku air naik sampai sebetis orang dewasa.

Sementara waktu sih, masih aman. Air belum sampai masuk ke dalam rumah. Moment ini jadi pengalaman pertama kalinya anakku main banjir di depan rumah. Hehe. Mana ada sih anak kecil yang nggak suka main air? Alhamdulillah, masih ada yang harus aku syukuri, kan?


Sejak hari pertama air naik, hujan juga masih belum berhenti. Info-info siaga udah berseliweran di mana-mana. Di rumah pun kami sudah antisipasi mengamankan barang-barang yang sekiranya berbahaya kalau terendam air. Listrik diamankan. Dokumen-dokumen penting, dan lain-lain.

Malam harinya, aku yang waktu itu lagi dalam keadaan hamil 5 bulan nggak bisa tidur dengan tenang dong. Sementara berita-berita banjir semakin menjadi-jadi. Di daerah sekitar rumahku pun udah banyak peringatan siaga banjir. Seingatku, sejak lahir dan besar di Banjarmasin, aku belum pernah merasakan kebanjiran lebih dari semata kaki.

Tepat di malam hari, menjelang hari ketiga, hujan belum juga reda. Listrik padam. Dan benar aja, akhirnya air mulai naik, masuk ke dalam rumah. Banyak info hewan-hewan air yang berkeliaran juga. Belum lagi pembobolan rumah-rumah yang ditinggal mengungsi sama pemiliknya. Ternyata begini rasanya kebanjiran. Ya Allah, gimana perasaan mereka yang harus kehilangan sanak saudara karena banjir ini?

Tim rescue yang tau ada ibu hamil di rumah, jelas aja dong langsung memberi saran buat mengungsi. Tapi, di tengah pandemi yang juga masih menjadi-jadi, rasanya aku kurang nyaman kalau harus mengungsi dan berkumpul sama banyak orang. Apalagi dalam keadaan hamil, dan bawa satu anak usia 3 tahun. Tapi keadaan di rumah udah nggak memungkinkan. Air bersih udah habis, listrik juga nggak ada. Hujan pun masih belum ada jeda.

Akhirnya, setelah berunding sama suami yang kebetulan nggak ikut pulang kampung karena kerjaan, aku memutuskan buat cari-cari penginapan yang aman. Nggak gampang nemuinnya dalam kondisi kayak gini. Hampir semua penginapan dan hotel penuh. Untungnya, Allah masih ngasih kemudahan buat nemuin satu kamar kos yang aman dari banjir. Nggak mikir lama, langsung aja aku ambil. Dengan bantuan relawan banjir, kami dijemput dan diantarkan ke tempat pengungsian sementara. Bener-bener pengalaman yang menegangkan, tapi semakin membuatku sadar akan segala macam nikmat dari Allah selama ini.


Pengalamanku ini belum ada apa-apanya dibandingkanr saudara-saudara di daerah lain. Mereka kehilangan harta, sanak saudara, dan banyak hal lainnya. Kejadian ini sebagai teguran, agar aku, kita semua lebih memperbanyak syukur daripada terus mengeluh pada keadaan.

Minggu, 12 September 2021

Rutinitas Sebelum Tidur


Setiap malam sebelum tidur, si sulung emang punya kebiasaan minta garuk-garuk punggung dulu sampai ketiduran. Ini dimulai sejak dia disapih, pas usia dua tahun kurang. Nggak tau kenapa, setiap jam tidur malam badannya mendadak gatal-gatal. Padahal sebelumnya baik-baik aja. Apalagi, maunya cuma digaruk-garukin sama ibu.

Agak kesel ya kalau ibu udah capek dan ngantuk banget. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, yang kayak gini tu nggak bakalan berlangsung selamanya juga, kan? Nanti, nggak berasa kalau dia udah besar, udah nggak mau garuk-garuk lagi. Atau bahkan udah nggak mau tidur sama ibunya lagi. Ah, ngebayangin yang kayak gini-gini tu suka tiba-tiba bikin sedih. Tapi, walaupun gitu, aku juga berharapnya sih bisa nerapin pola dan kebiasaan tidur yang bener buat dia dari sekarang. Btw, usianya sekarang baru 3 tahun.

Apalagi sejak adiknya lahir. Si sulung semakin deh nih nggak bisa lepas dari ibu. Apa-apa maunya ibu. Hihi. Siapa lagi coba selain anak sendiri yang bisa sampai segitunya sama kita? Yang benar-benar nggak mau jauh dari kita? Perasaan bahagianya sebenarnya udah nggak bisa diungkapin lagi. MashaAllah…

Balik lagi masalah garuk-garuk sebelum tidur. Sebenarnya, jauh dari sebelum adik lahir, aku dan suami udah sepakat ni mau ngebenerin jadwal tidur Mas Khal, -anak sulungku-. Jadwal tidurnya beneran kacau, belum teratur, kadang sampai hampir tengah malam juga masih sangat aktif anaknya. MashaAllah sekali. Selain jadwal tidur, kebiasaan sebelum tidurnya tadi juga sedikit demi sedikit harus dikurangin. Karena emang udah cukup mengganggu.

Menurut beberapa sumber yang aku dapat, tidur malam bisa jauh lebih mudah kalau di siang hari anak diajak buat aktif bergerak. Karena energinya udah berkurang dan memori di otaknya menyimpan bahwa waktu malam cuma buat istirahat. Teorinya sih begitu. Lalu aku dan suami coba kerjasama mempraktekkannya. Suami bertugas menemani Mas Khal main di luar (outdoor). Sebaliknya, aku yang harus nyari kegiatan seru di dalam rumah. Tujuannya juga biar bisa skip tidur siang.

Setelah cukup konsisten mempraktekkan, tidur malamnya cukup mudah. Yang jelas udah tanpa garuk-garuk. Aman pokoknya! Tapi, nggak lama kemudian, kebiasaan harus garuk-garuk muncul lagi. Jam tidur juga jadi kacau lagi. Otomatis juga bikin jam tidur orang tuanya ikutan kacau. Dah lah tu ilang konsentrasinya pas pagi. Hihi.

Cara lain yang aku pelajari dari beberapa tips parenting, adalah dengan membiasakan rutinitas sebelum tidur. Yang aku dan suamiku lakukan adalah, membiasakan Mas Khal sikat gigi, solat Isya berjamaah, dilanjutin membaca doa tidur dan surat-surat pendek, lalu bercerita. Tapi setelah selesai semua rutinutas, ya balik lagi minta garuk-garuk dalam waktu yang cukup lama. Nggak jarang sampai ibunya yang ketiduran duluan. 😅

Emang ya, teori-teori parenting yang banyak banget seliweran di sosial media itu nggak semuanya mudah dipraktekin. Apalagi, keadaan setiap anak dan orangtua juga beda. Kemampuannya pun juga berbeda. Jadi, kalau usaha juga udah dimaksimalkan, tinggal doanya juga dikuatkan. Siapa lagi yang bisa menolong kita selain cuma Allah? Ada nggak sih yang anaknya juga banyak drama sebelum tidur gitu?


Sabtu, 11 September 2021

Jejak Kehidupan Si Burung Merak

Sebenernya, sejak awal pembagian grup-grup kecil dan menemukan namaku ada di kelompok W.S Rendra, aku langsung cari tau lebih lanjut tentang sosok ini. Sebelumnya, cuma sekilas tau namanya doang sebagai sastrawan. Kebetulan banget tantangan pekan ini adalah mengulik biografi tokoh dari grup-grup kecil itu. Mari kita telusuri!

Mengenal  W.S Rendra

Willibrordus Surendra Broto Rendra atau yang lebih dikenal dengan nama W.S Rendra ini lahir di Solo, tanggal 7 November 1935. Rendra adalah anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya merupakan seorang guru bahasa Indonesia dan bahasa Jawa di sebuah sekolah Katolik di Solo. Sedangkan ibunya adalah penari serimpi di Keraton Surakarta Hadiningrat.

Dalam hal pendidikan, Rendra tercatat sebagai penerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada. Kemudian, mendapat beasiswa American Academy of Dramatic Arts. Sepulangnya dari Amerika, Rendra mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta. Tapi karena tekanan politik dan beberapa sebab lain, bengkel teater tersebut dipindahkan ke Depok sekitar tahun 1985. 

Sebagai penyair, Rendra dikenal dengan julukan "Burung Merak”. Julukan itu muncul karena sifatnya yang mirip dengan burung merak jantan yang penuh pesona. Rendra pun selalu tampil penuh pesona keindahan saat membawakan karyanya. Meskipun begitu, Rendra juga terkenal sebagai teman yang baik, yang selalu membantu saat temannya kesulitan.


W.S Rendra dan Karyanya

Orang-orang di Tikungan Jalan adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Bakat menulisnya memang sudah terlihat sejak di bangku SMP. Rendra menulis puisi dan cerpen untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Sejak itu juga, ia menunjukkan bakat lain, yaitu drama. Ia pertama kali memublikasikan puisinya di media massa melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya langganan menghiasi berbagai majalah pada masa itu.

Beberapa karya W.S Rendra

  1. Bib Bob Rambate Rate Rata (Teater Mini Kata) (1967)

  2. SEKDA (1977)

  3. Selamatkan Anak Cucu Sulaiman

  4. Mastodon dan Burung Kondor (1972)

  5. Hamlet (terjemahan dari karya William Shakespeare)

  6. Dan masih banyak lainnya

Salah satu karya puisi dari W.S Rendra

Gumamku ya Allah

Angin dan langit dalam diriku,

gelap dan terang di alam raya,

arah dan kiblat di ruang dan waktu,

memesona rasa duga dan kira,

adalah bayangan rahasia kehadiran-Mu, ya Allah!

Serambut atau berlaksa hasta

entah apa bedanya dalam penasaran pengertian.

Musafir-musafir yang senantiasa mengembara.

Umat manusia tak ada yang juara.

Api rindu pada-Mu menyala di puncak yang sepi.

Semua manusia sama tidak tahu dan sama rindu.

Agama adalah kemah para pengembara.

Menggema beragam doa dan puja.

Arti yang sama dalam bahasa-bahasa berbeda.

W.S Rendra menutup usia di usia 75 tahun, di tanggal 6 Agustus 2009 yang lalu. Kini karya si Burung Merak abadi.

#tugaspekandua #ODOPv


Sumber :

https://id.m.wikipedia.org/wiki/W.S._Rendra

https://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/node/188

Jumat, 10 September 2021

Main-main ke Alam Roh, yuk!

Masih ngomongin soal Kalimantan Selatan, nih. Kalau kemarin ngomongin soal pulaunya para kera, kali ini aku mau ngomongin sedikit tentang alam roh di Kalsel. Iya, alam roh. Jangan salah, alam roh di sini ada di dunia nyata. Bukan masuk dimensi sebelah, duh. Jadi, di Kalimantan Selatan, tepatnya di Desa Pakualam, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, ada sebuah kawasan yang dikenal dengan nama alam roh. Jadi, alam roh disini adalah sebuah situs cagar budaya yang dikenal juga dengan nama Monumen ALRI Divisi IV. Kawasan cagar budaya alam roh ini terdaftar di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Alam roh disini maksudnya bukan alam roh beneran, ya. Aduh, gimana sih. Maksudnya, bukan alam hantu-hantuan, gitu. Nah, di kawasan ini selain ada monumen ALRI Divisi IV tadi, juga terdapat rumah adat Banjar Bubungan Tinggi yang difungsikan sebagai pos penjagaan dan museum. Sebagian temen luar Banjar, yang pernah aku ceritakan soal situs ini pasti bakalan mengira tempat ini tempat-tempat yang mengerikan gitu. Serem. Ditebak dari namanya, sih gitu.

Nah, kenapa sih kok bisa dikasih nama Alam Roh? Jadi, saat itu, hampir sebagian besar rumah-rumah penduduk di sekitaran situ dijaga ketat sama pasukan Belanda. Para pejuang Kalimantan Selatan ini merasa kurang nyaman dan aman buat ngatur strategi perang di tempat tersebut. Soalnya nggak sedikit juga para pribumi pengkhianat yang justru mencelakakan bangsa sendiri. Jadinya, mereka pada janjian nih mau cari tempat baru yang lebih aman dan nyaman buat diskusi. Lalu sepakat lah mereka melanjutkan diskusi strategi perang di tengah-tengah hutan di Desa Pakualaman. Karena hutan ini dikelilingin sama pohon-pohon dan semak belukar yang lebat, jadinya para pejuang ini udah ngerasa yakin kalau mereka bakalan aman.


Eits, tapi ternyata nggak cuma itu. Para pejuang ini meminta bantuan sama para ulama di Martapura buat ngasih pagar gaib di lingkungan markas mereka yang baru tadi. Nah, sampai sini udah ketebak kan alasan penamaan Alam Roh tadi? Hihi. Menurut kisah dari mulut ke telinga, di empat sudut kawasan Alam Roh tadi ditanami jampi-jampi yang gunanya buat mengelabui pandangan para penjajah dan pribumi pengkhianat. Jadinya, mereka melihat markas tersebut cuma kayak hutan pada umumnya aja, gitu. Waw sekali, ya.

Tapi, Kalau sekarang kita berkunjung ke sana, masih kelihatan mata awam kok, gengs. Tenang, aman kok buat dikunjungi. Ada yang berniat ke sana?

Kamis, 09 September 2021

Delta Pulau Kembang

Pernah dengar nggak sih, ada satu destinasi wisata yang cukup unik di Kalimantan Selatan? Namanya Pulau Kembang. Secara administratif, Pulau Kembang ini masuk di wilayah Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan. Yap, tempat kelahiran aku. Hehehe, skip. Nah, dari namanya, mungkin ada sebagian orang yang mengira pulau ini dipenuhi dengan kembang-kembang alias bunga. Atau, banyak kembang desanya, mungkin? Jawabannya iya tapi kurang tepat. Kalau kita berkunjung ke pulau ini, siap-siap aja deh bakalan diserbu sama segerombolan kera ekor panjang. Mereka ini yang mendiami pulau kembang tadi.

Ini menurut mitos yang berkembang turun temurun, ya. Pulau Kembang ini adalah sebuah delta yang terbentuk dari karamnya kapal pasukan Inggris jaman dulu. Konon katanya sih, kera-kera itu adalah para prajurit Inggris yang dikutuk. Katanya tuh, dulu waktu para pedagang Inggris membuka kantor dagang di Banjarmasin, hubungan mereka sama Kerajaan Banjar kurang baik. Lalu, Sultan Banjar meminta bantuan suku pedalaman yang tinggal di pesisir sungai Barito buat menyingkirkan para penjajah Inggris.

Terjadilah pertempuran antara penjajah sama orang-orang suku Biaju. Pasukan Inggris yang kalah perang, ditenggelamin kapalnya sama pasukan suku Biaju. Alhasil, lama kelamaan muncul deh delta yang kemudian di kasih nama Pulau Kembang. Trus, kok dinamain Pulau Kembang, sih? Jadi, mitosnya lagi, kalau ada pengunjung yang datang dan bernazar di sana sembari bawa-bawa sajen kembang, lalu hajatnya bakalan dikabulkan. Dari situ, semakin banyak pengunjung yang datang demi aktivitas menebar kembang itu tadi. Jadilah muncul nama, Pulau Kembang.


Eits, belum selesai sampai di sini, gengs. Masih ada cerita versi lainnya juga. Hampir sama, bedanya cuma para penumpang kapal yang katanya dipenuhi sama etnis Tionghoa yang berniat menguasai Kerajaan Kuin. Mereka ini berlabuh dan menetap di Kalimantan pake kapal Inggris. Lalu, seorang penjaga Kerajaan gitu menentang, dan memberi syarat buat para Etnis Tionghoa ini membelah batang pohon besar tanpa menggunakan alat apapun. Jelas aja para Etnis ini nggak berhasil, tapi tetap bersikeras nggak mau ninggalin Pulau Kalimantan. Jadilah keluar tuh kesaktian-kesaktian para penjaga Kerajaan yang bikin kapal mereka tenggelam. Kisah selanjutnya, sama kayak di atas tadi. Banyak keturunan etnis tersebut yang kemudian datang berkunjung sambil nebar-nebarin kembang di sepanjang perjalanan. Tumpukan kembang yang terlihat sepanjang lintasan menuju ke tempat itu lah yang kemudian menjadikan nama Pulau Kembang.

Tentang asal-usul warik (kera) yang mendiami pulau ini, adalah bukti rasa syukur seorang raja yang berhasil mendapat keturunan setelah melakukan ritual upacara badudus (mandi) di sana. Lalu, raja itu merintahin prajuritnya buat menyimpan sepasang kera jantan dan betina, biar berkembang biak dan menjaga kelestarian pulaunya. Kemudian berkembanglah itu pulau sebagai tempat ziarah sampai sekarang.

Begitu…

Panjang banget, ya. Ternyata, Kalimantan Selatan juga punya destinasi wisata unik yang menarik banyak wisatawan lokal maupun asing buat dateng ke sana. Tapi, siap-siap deh kalau ke sana bakal dikelilingi sama kera-kera yang berkeliaran. Nggak papa ya, itung-itung berbagi makanan sama para penghuni pulau.

Jadi, gengs, kalaupun ada yang tertarik buat jengukin para kera di Pulau Kembang, datanglah sebagai wisatawan aja. Cukup itu aja, karena sebaik-baiknya tempat meminta cuma kepada Allah. Jangan pernah meminta sesuatu selain kepada-Nya. Jadikan kisah di atas sebagai warna-warni destinasi wisata aja, ya. Ayo sini, main ke Kalimantan!


Featured Post

Romansa Dalam Buku "This Wall Between Us"

Menyambut tantangan membaca buku bergenre fiksi romance di minggu ini dengan memilih buku berjudul This Wall Between Us, karya I...