Senin, 04 Oktober 2021

Pabrik Sirop Tertua Di Indonesia

Adakah di sini yang sangat-sangat suka minuman manis dan segar semacam sirop? Minuman yang bakalan hits setiap bulan Ramadhan ini emang punya rasa yang manis, dan pasti jadi favorit banyak orang. Apalagi setelah seharian puasa. Rasanya tuh pengin berbuka dengan minuman yang bisa menyegarkan tenggorokan, gitu.

Sirop salah satunya. Walaupun, ada juga sebagian orang yang lebih memilih berbuka dengan segelas teh hangat, atau cukup dengan air putih saja. Namun, pesona si sirop ini tetap yang paling bersinar saat bulan puasa. Iya, kan?

Aku akan bahas sedikit asal mula si sirop ini hadir di Indonesia, ya, gengs. Bagi para pecinta minuman manis ini, wajib baca. Biar tau juga sejarahnya. 

Pabrik Sirop Pertama di Indonesia

(Sumber : goodnewsfromindonesia.id)

Pabrik sirop pertama di Indonesia, didirikan sejak tahun 1923 oleh J.C. van Drongelen dan Hellfach di Surabaya, dikenal dengan nama Pabrik Siropen. Bangunan arsitek klasik khas Eropa zaman dulu ini masih berdiri tegak di Surabaya sebagai warisan cagar budaya.

Sayangnya, keberadaan pabrik sirop ini umumnya cuma diketahui sama warga asli Surabaya atau pegiat sejarah aja, gengs. Padahal banyak kisah menarik yang bisa kita gali dari sana. Contohnya, tentang sejarah minuman manis yang diproduksi di situ.

Bangunan putih besar bertuliskan 'Pabrik Limoen J.C Van Drongelen & Hellfach' itu menunjukkan bahwa pabrik tersebut didirikan oleh dua orang berkebangsaan Belanda. Dan kata 'Limoen' berarti minuman manis atau sirop yang siap diminum.

Pada masanya, minuman ini cuma bisa dinikmatin sama para Bangsawan aja, gengs. Pribumi dengan status sosial yang tinggi juga bisa, sih. Tapi nggak buat para rakyat jelata, kaum inlander. 

Mengutip dari situs actasurya.com, sejak berdirinya, pabrik ini telah berganti tangan kepemilikan sebanyak tiga kali dari jaman Belanda ke jaman Jepang. Namun, pada tanggal 14 Agustus 1945, Belanda mengambil alih kepemilikan. Setelah proses yang cukup lama, tepat pada tahun 1950 seluruh bangunan asing menjadi milik Negara Republik Indonesia tak terkecuali pabrik sirop ini.

Saat perang 10 November 1945, setelah terbunuhnya Brigjen AWS Mallaby di Jembatan Merah, Pabrik Siropen ini sempat jadi tempat persembunyian tentara pelajar, sebagian pasukan juga mengamankan diri di sini.

Masih mengutip dari situs actasurya.com, saat ini pabrik sirop pertama di Nusantara ini, hanya memproduksi sirop Siropen dengan berbagai macam jenis, diantarannya Siropen Telasih, Siropen Garmet dan Siropen Premium. Kata Siropen berasal dari bahasa Belanda yang berarti cairan kental manis atau sirop, hal itulah yang menjadi cikal bakal kata sirup di Indonesia.

Bahkan, dalam proses pembuatannya, pabrik siropen ini masih menggunakan kendi’ atau guci yang sama pada produksi di tahun awal berdirinya pabrik tersebut. Kendi atau guci yang dimaksud, digunakan untuk wadah sirup setelah dimasak.

Dari situs ayosurabaya.com dikatakan bahwa, mereka sengaja menerapkan operasional secara tradisional atau tanpa bantuan mesin lantaran mempertahankan keaslian, kualitas, dan histori dari sirup yang dibuat, baik dalam segi kontemporer maupun konvensional.

Selain itu, sirup khas Surabaya ini juga sangat ketat dalam memilih gula sebagai bagian dari bahan bakunya, sebagai bentuk komitmen pengelola yang tidak menggunakan pengawet maupun pemanis buatan untuk mempertahankan rasa dan aroma. 

Menilik dari historinya, pabrik ini emang pantas dijadikan cagar budaya yang dipertahankan keasliannya ya, gengs. Bagi kalian yang warga Surabaya, udah pernah main ke sini langsung, belum?

Oh, ya, jangan sedih, gengs. Pabrik peninggalan Belanda ini masih berdiri tegak di Jalan Mliwis nomor 5 Surabaya. Nggak jauh dari tempat ikonik di Surabaya juga, yaitu jembatan merah. Kalau udah ada yang pernah mampir, boleh dong tambahin ceritanya di komentar. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Romansa Dalam Buku "This Wall Between Us"

Menyambut tantangan membaca buku bergenre fiksi romance di minggu ini dengan memilih buku berjudul This Wall Between Us, karya I...